type=’html’>
Sumber referensi : Youtube.com
type=’html’>
Sumber referensi : Youtube.com
type=’html’>
Streetcap1 juga menulis ada dua benda yang mengikuti ISS, satu berbentuk bulat dan yang satunya berbentuk cakram di luar ISS pada malam tahun baru.Apakah itu hanya refleksi di jendala ISS belaka?
“Seharusnya tidak mengherankan bahwa hanya setengah abad kemudian, banyak orang menonton video YouTube dan masih benar-benar bingung dengan apa yang mereka lihat dan pahami” kata Oberg kepada The Huffington Post lewat email.
Jika Anda ingin bergabung dalam perburuan UFO di ruang angkasa, klik di sini untuk mendapatkan gambaran live dari NASA di ISS.Semoga berhasil menemukan hal-hal yang menarik dan sukses buat perburuan anda. SEMANGAT
Sumber: Huffington Post
Follow kami : @Astronesia_Blog
type=’html’>
“Belum pernah terjadi delapan planet di sistim tata surya posisinya sejajar. Dan kalaupun sejajar tidak akan berdampak kepada terjadinya Blackout,” terang Peneliti Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Evan Irawan Akbar, di Kamis (20/12/2012).
Menurutnya, proses sejajarnya planet pernah hampir terjadi pada 1962 dan Mei 2000. Namun itupun hanya hampir terjadi kepada lima planet yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, dan Jupiter.
Sulitnya kesejajaran itu terwujud karena kecepatan masing-masing planet berbeda-beda. Sehingga butuh waktu triliunan-triliunan tahun untuk sampai tiba pada kondisi dimana delapan planet bisa sejajar.
“Jika itu terjadi maka dampaknya hanya akan terjadi pada kekuatan gravitasi di bumi, bukan kepada gelapnya alam semestas,” sambungnya.
Ditambahkannya, NASA secara jelas sudah mengeluarkan pernyataan jika isu 23-25 Desember 2012 bumi akan gelap tidak betul. Bahkan bumi akan aman untuk kurun waktu 4 miliar tahun ke depan.
Sehingga sejajarnya alam semesta tidak perlu dikhawatirkan. Bahkan sepanjang 2013 tidak ada tanda gejala alam yang mengancam bumi. Siklus tahunan rutin seperti dua kali gerhana bulan dan 10 kali hujan meteor akan terjadi seperti di 2012.
“Kalaupun ada yang berbeda adalah melintasnya komet terang di akhir 2013 dan melintasnya asteroid pada Februari 2013. Namun asteroid itu tidak akan menabrak bumi karena lintasannya berjarak 3,5 kali bumi-bulan,” pungkasnya.
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
![]() |
| Ilustrasi |
Orang yang dimaksud adalah Chris Hadfield. Dan ia diperkirakan selamat dari kiamat karena pada waktu itu ayah tiga anak ini tengah berada di ruang angkasa. “Ya, Hadfield adalah seorang astronaut,” tulis Metro News Canada, Selasa, 11 Desember 2012.
Pada Rabu, 19 Desember 2012, Hadfield dijadwalkan tinggal landas dalam kapsul ruang angkasa Rusia. Dan ia tidak sendiri, namun bertiga dengan rekannya asal Rusia. Bila tidak ada hambatan, tulis Metro News Canada, Hadfield akan sampai di Stasiun Ruang Angkasa Internasional pada Jumat, 21 Desember 2012. “Bertepatan dengan hari kiamat.”
Hadfield sendiri tidak percaya akan nubuat hari kiamat. Menurut dia, ramalan itu hanya omong kosong. “Tapi lucu juga untuk jadi bahan obrolan,” kata Hadfield.
Meski tidak mempercayai ramalan itu, Hadfield telah berbicara dengan teman-temannya soal berbagai hal yang mungkin terjadi. Dan yang dikhawatirkan: adanya anggota keluarga yang sakit, meninggal, atau terluka selama ia berada di ruang angkasa.
“Kondisi itu akan sangat sulit bagi kami, para astronaut dan kosmonaut,” kata Hadfield. “Berada di ruang tertutup tanpa bisa melakukan apa-apa bagi keluarga, itu menyiksa.”
Prediksi kiamat 21 Desember 2012 dicetuskan seorang hippies, Jose Arguelles, penulis buku The Mayan Factor. Dalam buku terbitan 1987 itu, Arguelles mengklaim dirinya telah berkomunikasi dengan roh raja suku Maya dari abad ketujuh. Hasil perbincangannya, Arguelles menyebut 21 Desember 2012 sebagai akhir dari perjalanan waktu.
Tafsir Arguelles itu mendapat sanggahan banyak pihak. Seperti NASA, sesepuh suku Maya, ilmuwan, dan ulama Islam.
Sumber: Tempo.co
type=’html’>
![]() |
| Ilustrasi |
Sumber: Space.com
type=’html’>
![]() |
| Ilustrasi sabuk asteroid yang mengelilingi Bintang Vega |
![]() |
| Para astronom telah menemukan apa yang tampaknya menjadi sabuk asteroid besar di sekitar bintang terang Vega, seperti yang digambarkan di sebelah kiri |
Sumber: Redorbit
type=’html’>
![]() |
| Klik gambar untuk memperbesar |
type=’html’>
![]() |
| Wahana antariksa NASA, Ebb dan Flow, yang tergabung dalam misi GRAIL. |
Sumber: Space.com
type=’html’>
Sumber: Apod-NASA
type=’html’>
![]() |
| Ilustrasi |
Saat ini beredar kabar bahwa pada tanggal 23-25 Desember 2012 bumi akan gelap total. Alasannya, matahari dan planet-planet dalam posisi sejajar, sehingga planet yang posisinya setelah Merkurius akan gelap.
Teori “aneh” tersebut diperkuat dengan wacana posisi matahari yang akan dekat dengan pusat galaksi pada tanggal 21 Desember, adanya fenomena titik balik matahari musim dingin di belahan bumi utara, dan matahari yang terhalang awan debu tebal. Dengan demikian, menghasilkan sebuah wacana yang, menurut NASA, sama sekali tidak masuk akal, yaitu bumi gelap total.
NASA memastikan bahwa memang ada kondisi saat planet-planet sejajar. Hanya, kondisi seperti ini termasuk normal dan tidak akan menghasilkan kejadian apa pun. Berikut ini penjelasan NASA, seperti dikutip dari situs resminya pada Senin, 24 Desember 2012, soal rumor blackout.
Pertama, NASA merilis bahwa titik balik matahari sama sekali tidak berkorelasi dengan setiap gerakan bintang dan planet di alam semesta.
Kedua, bumi tidak berada pada jangkauan efek gravitasi dari lubang hitam yang ada di pusat galaksi Bima Sakti, orbit bumi. Jarak bumi dengan lubang hitam adalah 165 mil kuadriliun. Sedangkan selama ini, meskipun memiliki masa lebih kecil dari lubang hitam, gravitasi di bumi dominan matahari. Tetapi, dengan jarak 93 juta mil dari matahari, bumi tidak pernah terpengaruh.
Ketiga, setiap tahun memang ada fase saat matahari memasuki lintasan dark rift, dan kejadian kali ini pun bukan pertanda apa-apa. Lantas, apa itu dark rift? Bagian ini juga yang menurut NASA kerap diributkan orang serta melahirkan teori “aneh”.
Dark rift adalah awan debu tebal yang mengisi galaksi. Dengan mata telanjang, orang hanya melihatnya sebagai awan gelap atau redup. Padahal, dengan teleskop inframerah, awan yang berisi kumpulan debu ini akan terlihat dengan jelas. Kumpulan debu tebal ini membentang dari rasi bintang Cygnus ke Sagitarius.
Ada fase ketika matahari, menurut NASA, memang akan memasuki jalur ini. Hanya, fenomena ini wajar tiap tahun di waktu yang sama, dan tidak akan terjadi apa-apa.
Sumber: Tempo.co
type=’html’>
Foto kedua menunjukkan hal yang sama namun dengan disk keluar dari dalamnya.Ufo ini berada di antara garis gelap dan terang pada gambar itu,yang artinya benda ini asli saat foto itu di ambil.Perhatikan juga kelengkungan tanahnya dalam foto bergambar hitam.
Follow Twitter kami di @Astronesia_blog
Sumber: Ufosightingdaily
type=’html’>
![]() |
| Ilustrasi |
“Itu jumlah yang mengejutkan jika Anda memikirkannya. Pada dasarnya, ada paling tidak satu planet per bintang,” ungkap pimpinan studi, Jonathan Swift, dari California Institute of Technology di California, seperti dikutip Space, Rabu (2/1/2012).
Kesimpulan tersebut diungkapkan setelah Swift mempelajari tata surya Kepler 32 yang berjarak 915 tahun cahaya dari Bumi. Tata surya itu sendiri sebelumnya ditemukan lewat pengamatan dengan teleskop Kepler.
Tata surya Kepler 32 memiliki induk katai M, bintang yang lebih kecil dan dingin daripada Matahari. Menurut penelitian sebelumnya, katai M adalah bintang yang paling umum terdapat di Bimasakti.
Sejauh ini, ada lima planet yang mengorbit Kepler 32. Seluruh planet mengorbit bintangnya dari jarak yang relatif dekat. Astronom berpendapat, tata surya Kepler 32 merepresentasikan tata surya lain di Bimasakti.
Penemuan planet dengan teleskop Kepler dilakukan dengan metode transit. Riset bisa dilakukan jika bintang atau planet sedang menghadap ke teleskop. Keberadaan planet diketahui lewat kedipan cahaya bintang.
Dalam riset ini, Swift melakukan perhitungan, seberapa besar kemungkinan bintang dan planet menghadap teleskop. Lewat perhitungan jumlah selanjutnya didapati bahwa jumlah planet alien di Bimasakti mencapai 100 miliar.
Jumlah 100 miliar tersebut hanya merujuk pada eksoplanet yang mengorbit katai M. Jika ditotal dengan yang mengorbit bintang jenis lain, jumlahnya bisa mencapai 200 miliar.
Studi dipublikasikan di Astrophysical Journal, kemarin. Studi ini juga mengonfirmasi tiga planet di tata surya Kepler 32, masing-masing memiliki diameter antara 0,8-2,7 kali Bumi. Semua planet mengorbit dalam radius jarak 16 juta km dari bintangnya. Bumi sendiri mengorbit Matahari dari jarak 150 juta km.
Sumber: Kompas.com
type=’html’>
Dilansir MSN, Jumat (21/12/2012), pakaian angkasawan ini mengedepankan fleksibilitas, yang dibalut dengan warna putih serta hijau muda. Busana tersebut, yang dikenal dengan kode nama Z-1, dirancang tidak hanya memberikan kenyamanan bagi astronot, tetapi juga memungkinkan baginya untuk lebih lincah bermanuver ketika berada di luar angkasa.
Selain itu, pakaian luar angkasa ini juga mampu memberikan keleluasaan ketika bergerak, serta lebih gesit ketika berjalan di permukaan planet. Pakaian antariksa yang digunakan saat ini, dikenal dengan nama EMU (Extravehicular Mobility Unit), yang didesain untuk membantu pekerjaan di International Space Station (ISS).
NASA merancang Z-1 untuk dapat mendukung astronot ketika berada dalam misi luar angkasa. Jika astronot di luncurkan ke asteroid atau Mars, NASA ingin memastikan bahwa astronot tersebut terlindungi dari radiasi latar belakang serta masih dapat bergerak ke sekitar permukaan planet.
Amy Ross, insinyur NASA yang mengembangkan pakaian angkasawan terbaru ini mengatakan, salah satu perbedaan besar ialah dalam segi kepraktisan ketika mengenakan Z-1 ketimbang EMU. “Kami pikir ini akan mengurangi terhadap cedera. Khususnya, cedera bahu, di mana ini bisa terjadi dengan metode EMU,” jelasnya.
NASA juga sedang mengembangkan backpack pendukung astronot yang dinamakan PLSS 2.0, sehingga memungkinkan astronot untuk berada lebih lama di luar angkasa (spacewalks). Kabarnya, Z-1 akan menjadi pakaian angkasawan yang resmi dikenakan astronot NASA untuk misi luar angkasa di 2015.
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
Sumber: Apod-NASA
type=’html’>
Sumber: Space.com
type=’html’>
Sumber: Apod-NASA
type=’html’>
Retakan tanah itu menunjukkan bahwa air pernah mengalir di Mars. Penelitian ini menambah bukti baru terkait Mars yang memiliki hidrologi aktif.
Dengan hidrologi aktif ini, ilmuwan bisa mendapatkan pengetahuan baru guna mencari bukti kehidupan purba di planet merah tersebut. Ilmuwan meyakini bila aliran air ini masih ada, maka air ini kemungkinan diedarkan melalui celah-celah.
Ilmuwan juga percaya bahwa air yang bersirkulasi tersebut, perlahan akan dapat mengisi celah dengan deposit mineral, yang akan menjadi lebih keras ketimbang batu di sekitarnya. Batu di Mars juga dapat terkikis selama jutaan tahun dan lapisan material mineral keras itu akan tetap ada pada tempatnya.
Untuk menguji hipotesis, ilmuwan memetakan lebih dari 4.000 pegunungan di dua kawah Mars. Ilmuwan menggunakan pencitraan beresolusi tinggi dari Mars Reconnaissance Orbiter NASA.
Hipotesis lainnya juga menunjukkan bahwa struktur pegunungan ini terbentuk dari magma vulkanik yang masuk ke dalam batuan di sekitarnya. “Ini menunjukkan bahwa pembentukan retakan dihasilkan melalui energi dari dampak peristiwa lokal dan tidak berhubungan dengan skala regional vulkanik,” kata peneliti Lee Saper, seperti dikutip Redorbit, Rabu (30/1/2013).
Tim juga menemukan pegunungan yang secara ekslusif berada di area, di mana batuan di sekitarnya kaya akan tanah zat besi-magnesium. Mineral dianggap sebagai tanda bahwa air pernah hadir di bebatuan Mars.
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
Dilansir Nbcnews, Sabtu (22/12/2012), sejauh ini, tidak ada badai Matahari yang “menggoreng” Bumi, tak ada gunung-gunung yang jatuh ke laut. Matahari terbit di monumen Maya kuno di Meksiko, di mana ribuan orang di sana berkumpul untuk menyongsong era baru.
Lalu apa yang terjadi kemudian? John Henderson, antropolog di Cornell University mengatakan dirinya tidak berpikir bahwa akan ada ancaman yang menghabisi nyawa manusia di Bumi. “Saya tidak berpikir akan ada kawanan jaguar atau macan yang turun dari langit,” celoteh John.
Arkeolog dan astronom telah sepenuhnya menolak segala sesuatu tentang mitos kiamat 2012. Bahkan, suku Maya sendiri tidak pernah berharap dunia berakhir ketika kalender Hitungan Panjang bergulir lebih dari siklus 144.000 hari di 2012.
Medan magnetik Bumi tidak akan rusak. Tidak ada ancaman benda luar angkasa atau planet asing yang akan menabrak Bumi.
NBCnews melaporkan, tidak semuanya tentang 21/12/2012 adalah malapetaka dan kesuraman. Pada hari ini, turis dan para wisatawan berbondong-bondong menuju reruntuhan Maya Chichen Itza.
Mereka menyambut fajar di hari Jumat dan memulai zaman baru dengan ritual lama dan baru. “Ada ledakan kesadaran melalui ini. Kami menjadi milyarder energi. Membuka untuk menerima lebih banyak cahaya dan banyak kebahagiaan,” ungkap musisi asal California bernama Shambala Songstar.
Minu Nair, seorang turis berusia 27 tahun dari India, bercanda tentang hubungan kiamat setelah mendaki ke puncak piramida Maya di Coba, yang membutuhkan satu jam perjalanan dari Chichen Itza. “Setidaknya kami bisa mengatakan bahwa kami melihat akhir dari dunia,” tuturnya sembari tertawa.
Namun, tidak semua menunjukkan keceriaan atau kegembiraan. “Kami harus berhati-hati terhadap psikosis (kelainan jiwa) massa,” ujar peramal Meksiko yang terkenal, Antonio Vazquez Alba. Menurut Associated Press, Vazquez memperingatkan para pengikutnya untuk menjauh dari pertemuan massa pada Jumat.
Ini perlu diperhatikan untuk menghindari kekhawatiran tentang penyerbuan atau bahkan bunuh diri massal seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
![]() |
| Serratia liquefaciens |
Peneliti menyimpulkannya setelah melakukan studi. Tidak benar-benar di Mars, melainkan di fasilitas penelitian Space Life Sciences Laboratory, Kennedy Space Center, NASA di Florida. Mikroba tersebut ditempatkan di sebuah wadah yang kondisinya diatur sesuai lingkungan Mars.
Andrew Schuerger, mikrobiolog dari University of Florida, mengatakan, Serratia liquefaciens sebenarnya memiliki habitat terbaik di lautan dengan tekanan 1.000 milibar atau 1 bar. Jadi, sangat mengejutkan bahwa bakteri tersebut mampu hidup dalam kondisi tekanan 7 milibar seperti di Mars.
“Ini benar-benar kejutan besar. Kami tak bisa percaya bahwa mikroba ini bisa hidup di 7 milibar. Mikroba ini menjadi obyek penelitian hanya karena mudah dikulturkan dan ditemukan di wahana antariksa,” ungkap Schuerger seperti dikutip Reuters, Rabu (9/1/2013).
Serratia liquefaciens mengalahkan mikroba lain. Selama ini, riset kemampuan hidup mikroba di Mars difokuskan pada mikroba ekstremofil, bisa bertahan di suhu ekstrem dingin atau panas. Ternyata, salah satu mikroba ekstremofil dan 23 jenis mikroba lain yang diteliti justru tak bisa bertahan.
Bersama Serratia liquefaciens, ada enam mikroba lain yang dinyatakan dapat hidup di tekanan rendah, seluruhnya adalah anggita genus Carnobacterium. Meski bisa hidup di fasilitas penelitian, belum tentu semua mikroba itu akan hidup jika dikirim ke Mars.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan, misalnya melihat ketahanan pada kadar garam tinggi, lingkungan dengan radiasi tinggi dan kandungan air sedikit. Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, 19 Desember 2012 lalu, dan Astrobiology minggu ini.
Sumber: Kompas.com
type=’html’>
Pada malam ini, selain munculnya Bulan dengan 78 persen lebih terang, terdapat juga penampakan Jupiter yang persis bintang. Namun, tidak seperti bintang yang cahayanya tampak berkerlap-kerlip, planet terbesar di sistem Tata Surya ini akan dapat terlihat bercahaya di langit malam.
Dilansir Space, Senin (21/1/2013), Bulan akan tampak lebih bersinar dan berdekatan dengan objek “bintang” yang terang. Cahaya keperakan yang ada pada “bintang” tersebut merupakan planet terbesar di sistem Tata Surya, Jupiter.
Fenomena ini dapat dilihat dengan jelas apabila cuaca mendukung, tidak mendung dan kondisi langit yang cerah. 21 Januari 2013 merupakan titik terdekat Bulan dan Jupiter hingga dapat disaksikan kembali di 2026.
Pada titik ini, Bulan akan berjarak sekira 248.700 mil (400.500 kilometer) dari Bumi. Sementara Jupiter hampir sekira 1.664 kali lipat lebih jauh di luar angkasa pada jarak 413,8 juta mil (665,9 juta kilometer).
Kabarnya, Bulan bergerak di sekitar Bumi di arah Timur. Jupiter akan dapat terlihat tiga kali lipat lebih terang dari bintang paling bercahaya, Sirius.
Sumber : Okezone.com
type=’html’>
![]() |
| Ilustrasi |
Kendati demikian, eksperimen Curiosity masih belum mampu memastikan apakah planet merah tersebut akan dapat dihuni oleh manusia di masa depan. Tak hanya NASA Curiosity yang melakukan penelitian di Mars, tim internasional dari University of Hertfordshire juga mengungkap temuan baru tentang planet yang kemungkinan layak huni.
Dilansir Independent, Rabu (19/12/2012), ilmuwan mengatakan, sebuah planet dengan kondisi yang bisa mendukung kehidupan, mengorbit matahari lain dan terlihat oleh mata telanjang. Salah satu dari lima planet mengorbit Tau Ceti, yakni sebuah bintang yang mirip dengan matahari di sistem Tata Surya.
Astronom mengestimasi bahwa planet-planet yang mengorbit Tau Ceti ini berukuran dua sampai enam kali lipat dari Bumi. Salah satu dari planet tersebut, dengan lima kali lipat massa Bumi, terletak di zona bintang layak huni.
Dikenal juga dengan sebutan Goldilocks zone, ini merupakan wilayah orbital yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Sehingga, kondisi tersebut memungkinkan untuk munculnya air serta potensi kehidupan.
Karena sulitnya dalam mendeteksi planet ekstra-solar, sebagian besar planet tersebut ditemukan dengan tingkat massa yang tinggi. Keluarga planet Tau Ceti dianggap memiliki sistem solar massa terendah yang belum ditemukan.
Para peneliti menggunakan teknik sensitivitas tinggi dengan mengombinasikan data dari lebih dari 6.000 pengamatan. Pengamatan ini menggunakan tiga teleskop yang berbeda.
“Tau Ceti adalah salah satu tetangga kosmik terdekat. Planet ini memiliki cahaya yang kami dapat pelajari atmosfernya di masa depan,” tutur James Jenkins, anggota dari tim internasional University of Hertfordshire.
Ia mengatakan, sistem planet ini ditemukan di sekitar bintang terdekat, yang juga dekat dengan matahari di sistem Tata Surya. Ini menandakan bahwa sistem planet ini umum atau serupa dengan galaksi Bima Sakti.
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
![]() |
| Kumbang kotoran |
Meskipun mata mereka terlalu lemah untuk membedakan rasi bintang tetapi para ilmuwan meyakini bahwa serangga ini menggunakan cahaya Bima Sakti untuk menavigasi arah jalan mereka agar lurus. Dan juga untuk memastikan agar mereka tidak berputar kembali ke tumpukan bola kotoran si pesaing.
“Bahkan pada malam tak berbulan, kumbang kotoran masih berhasil menunjukkan arah di sepanjang jalan lurus,” kata Dr Marie Dacke dari Universitas Lund, Swedia. Menurutnya, ini mendorong mereka untuk membuktikan bahwa kumbang tersebut mengeksploitasi langit berbintang sebagai arah orientasi.
Lapangan percobaan di Afrika Selatan menunjukkan bahwa kumbang mampu menggulung bola-bola kotoran mereka di sepanjang jalan lurus di bawah langit yang bertabur bintang, tetapi tidak dalam kondisi mendung. Kumbang ini ditempatkan di arena melingkar yang dikelilingi kain hitam tinggi sehingga mustahil bagi mereka untuk melihat lingkungan sekitar.
Dengan tidak ada bulan, mereka butuh waktu sedikit untuk menggulung bola kotoran itu dari pusat arena ke tepian. Dan mereka pada saat itu masih bisa melihat langit. Tetapi ketika mereka tidak bisa melihat ke atas, waktu yang diambil sebelumnya 40 detik untuk mencapai tepian akan bertambah menjadi 124 detik. Mereka tampak berkeliaran tanpa tujuan sebelum mereka mencapai tepi. Percobaan juga diulang di planetarium Johannesburg dengan hasil yang sama.
Kebanyakan bintang akan terlalu redup untuk mata kecil kumbang tersebut. Mereka tidak bisa mengenali rasi bintang hanya saja mampu mendeteksi cahaya Bima Sakti yang melengkung di atas kepalanya.
“Temuan ini merupakan demonstrasi pertama untuk meyakinkan penggunaan langit berbintang dalam orientasi pada serangga,” tulis para peneliti dalam jurnal Current Biology. Mereka menambahkan meskipun penemuan ini adalah deskripsi pertama dari serangga memanfaatkan Bima Sakti untuk navigasi, kemampuan ini mungkin berubah menjadi luas dalam kerangka kerajaan hewan.
Sumber: Tempo.co
type=’html’>
![]() |
| Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev |
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
![]() |
| Jejak ledakan objek yang diduga meteorit di atas Kota Chelyabinsk, Ural, Jumat (15/2/2013) pagi. |
Sumber: Kompas.com
type=’html’>
type=’html’>
![]() |
| Komet ISON dan Pan-STARRS |
Dalam analisanya, para astronom mengatakan bahwa 2 komet tersebut ada kemungkinan dapat dilihat dengan mata telanjang karena cahayanya yang sangat terang.
Seperti dilansir Latino Post (13/01), salah satu komet yang dinamakan Pan-STARRS (C/2011 L4) kemungkinan akan menampakkan dirinya pada bulan Januari dan Februari, namun komet ini kembali muncul dan keluarkan cahaya paling terangnya sekitar bulan Maret mendatang.
Hal tersebut dikarenakan pada bulan Maret, jalur lintas Pan-STARRS sangat dekat dengan bumi. Komet yang pertama kali ditemukan pada tanggal 06 Juni 2011 lalu tersebut dipercaya berasal dari Oort Cloud atau awan komet berbentuk spherik yang berjarak sekitar 1 tahun cahaya dari matahari.
Apabila komet Pan-STARRS akan menghiasi langit di bulan Maret, maka satu komet lagi yang dinamakan ISON (C/2012 S1) akan menampakkan diri di akhir tahun 2013 ini.
Walaupun keduanya memiliki jarak lintas yang lumayan dekat dengan bumi, namun para astronom mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena 2 komet tersebut tidak akan membawa dampak negatif apalagi sampai menabrak bumi.
type=’html’>
![]() |
| Meteorit yang diperkirakan berasal dari asteroid Vesta dan Protoplanet |
Dilansir Latimes, Senin (21/1/2013), peneliti meteorit Sahara menjelaskan protoplanet Vesta yang bersuhu dingin, memiliki keterlibatan sangat aktif dalam sejarah kehidupan awal sistem Tata Surya. Vesta yang memiliki lautan magma di bawah eksterior batu, memungkinkan kandungan mineral untuk naik dan turun di antara material lembut dan keras.
Ilmuwan meyakini bahwa protoplanet Vesta mirip seperti yang ada di Bumi dan planet berbatu lainnya di sistem Tata Surya. Ilmuwan mendapatkan data melalui pesawat luar angkasa Dawn milik National Aeronautics and Space Administration (NASA).
“Orang berpikir bahwa asteroid memiliki ukuran besar, abu-abu, dingin dan berbentuk hampir menyerupai kentang, yang suatu waktu dapat menabrak ke dalam Bumi dan mengancam kita,” ungkap Beverley Tkalcec, Planetary Geologist di Goethe University, Frankfurt, Jerman.
Ia mengatakan, asteroid ini memiliki interior dinamis yang serupa dengan apa yang terjadi di awal terbentuknya Bumi. Vesta merupakan asteroid dan protoplanet seukuran wilayah Arizona Amerika Serikat.
Ukuran besar tersebut, memungkinkan proses mencair yang terjadi di tubuh objek luar angkasa tersebut. Dengan terjadinya proses mencair itu, maka material berat akan bergerak ke pusat dan material ringan akan naik ke bagian kerak.
Vesta dan planet kerdil Ceres merupakan target penelitian berikutnya oleh pesawat luar angkasa Dawn. Vesta dan planet kerdil Ceres juga diyakini sebagai embrio planet yang tidak sepenuhnya terbentuk.
Oleh karena material batu pada dua objek luar angkasa itu belum mengalami proses tektonik sebagaimana yang terjadi di Bumi, maka usia Vesta dan planet kerdil Ceres hampir sama tuanya dengan sistem Tata Surya, yakni di lebih dari 4,5 miliar tahun lalu.
Sumber: Okezone.com
type=’html’>
![]() |
| Sebuah lubang didanau Chelyabinsk yang dibuat meteorit pada tanggal 15 februari 2013 |
Sumber: Space.com